5 Fakta Menarik Moestadjab, Wali Kota yang Punya Peran Besar Bangun Surabaya

5 Fakta Menarik Moestadjab, Wali Kota yang Punya Peran Besar Bangun Surabaya

Wali kota Surabaya R Moestadjab Soemowidigdo. ©2020 Merdeka.com/id.wikipedia.org

Merdeka.com – R Moestadjab Soemowidigdo merupakan salah satu wali kota yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di Kota Surabaya, Jawa Timur. Sebelum bernama Jalan Wali Kota Mustajab, jalan tersebut dulunya bernama Jalan Ondomohen.

Meansir dari liputan6.com pada Sabtu (5/9/2020), pengabadian nama Wali Kota Moedtadjab menjadi nama jalan protokol bukan tanpa alasan. Pria yang menjabat sebagai wali kota Surabaya di tahun 1952 itu dikenal memiliki kiprah besar dalam pembangunan Kota Pahlawan selepas masa kemerdekaan Republik Indonesia.

1 dari 4 halaman

Atasi Krisis

5 Fakta Menarik Moestadjab, Wali Kota yang Punya Peran Besar Bangun Surabaya

©2020 Merdeka.com/id.wikipedia.org

Menurut penuturan Sejarawan Universitas Airlangga (Unair), Adrian Perkasa, perang kemerdekaan menyebabkan Kota Surabaya hancur lebur. Krisis ekonomi melanda Surabaya yang ditandai dengan kesulitan warganya memenuhi bahan pangan dan sandang. Wali kota Moestadjab yang sedang menjabat mampu mengatasi krisis tersebut.

“Terkenal karena mampu membenahi krisis terutama ekonomi di Surabaya sejak ia menjabat tahun 1952,” terang Andrian saat dihubungi melalui pesan singkat, Jumat (4/9/2020).

Moestajab mampu menghadapi krisis tersebut dengan membenahi manajemen pemerintahan. “Hubungan dengan pemerintah pusat yang efektif. Dengan anggaran yang diberikan pemerintah pusat, Moestajab tidak hanya mampu memulihkan perekonomian Surabaya dari krisis tapi juga melakukan banyak pembangunan,” lanjutnya.

2 dari 4 halaman

Gagasan Pembangunan Surabaya

5 Fakta Menarik Moestadjab, Wali Kota yang Punya Peran Besar Bangun Surabaya

©2020 Merdeka.com/id.wikipedia.org

Moestajab menjabat sebagai Wali Kota Surabaya pada 1952-1956. Sebelumnya, ia sempat menduduki jabatan sebagai Bupati Jombang meskipun hanya berlangsung satu tahun, yakni pada 1949-1950.

Dhahana Adi, penulis buku Surabaya Punya Cerita menceritakan, Moestadjab menjabat sebagai wali kota Surabaya ketika Indonesia dihadapkan pada agresi militer 1 dan 2, serta Konferensi Meja Bundar (KMB).

“Ia menjabat ketika Indonesia baru merdeka 7 tahun, setelah carut marut penyerangan Belanda. Beliau yang punya semacam fondasi pembangunan Surabaya mau dibawa kemana,” ujar Dhahana.

Menurut Dhahana, Moestadjab mampu membangun Surabaya secara perlahan-lahan baik dari segi infrastruktur, kesehatan, pendidikan, kesenian, olahraga hingga ekonomi.  

3 dari 4 halaman

Libatkan Semua Pihak

5 Fakta Menarik Moestadjab, Wali Kota yang Punya Peran Besar Bangun Surabaya

©2015 Wonderful Indonesia

Dalam membangun Surabaya, lanjut Dhahana, Wali Kota Moestadjab melibatkan semua pihak. Tujuannya supaya seluruh pihak memiliki keterikatan dengan Kota Surabaya.

“Di Era Kolonial ada Kampung Melayu, Kampung Arab. Pak Moestadjab menata sedemikian rupa kampung-kampung dengan membenahi jalur sanitasi,” lanjutnya.

Wali Kota Moestadjab disebutnya membangun kota secara seimbang, baik dari sisi manusiawi, budaya, dan kesenian. Sehingga Surabaya menjadi kota metropolis melampaui zamannya.

Cara Membangun Kota

Pria kelahiran 8 April 1909 itu mengerti apa yang harus dilakukan untuk membangun Kota Pahlawan. Di antaranya yakni menata permukiman, membangun lahan untuk tempat tinggal masyarakat, dan infrastruktur jalan.

“Jangan sampai proyek baru saling bertabrakan. Sehingga dalam maklumat, kalau ada ruang kosong diberi tanda, dipagari, sehingga tahu tanah warga dan pemerintah,” ujar Dhahana.

4 dari 4 halaman

Inisiasi Pendirian Unair

5 Fakta Menarik Moestadjab, Wali Kota yang Punya Peran Besar Bangun Surabaya

©panoramio.com

Kiprah Wali Kota Moestadjab dalam bidang pendidikan yakni keikutsertaannya memperjuangkan pendirian Universitas Airlangga (Unair). Ia melobi pemerintah pusat untuk mendirikan perguruan tinggi negeri di Surabaya. Akhirnya, pada 1954 Moestadjab bersama Presiden Soekarno meresmikan Universitas Airlangga. Moestajab ditunjuk sebagai Dewan Presidium Unair. Selanjutnya, ia membentuk rektorat dan dekanat.

Moestadjab juga turut berperan membangun lapangan Tambak Sari, Pekan Raya Surabaya dan Tugu Pahlawan yang kini menjadi ikon Kota Surabaya.